Judul : Kesambit Nyi Roro Kidal
Penulis: T. Sandi Situmorang
Penerbit: Zettu (imprint Hi-Fest)
Halaman : 159 hal.
Harga : 29.500
Genre: Komedi Remaja
Senin, 28 Mei 2012
Senin, 02 April 2012
Sudah Terbit
Kumpulan Cerita Anak
ISBN : 9789792930252
Rilis : 2012
Halaman : 116
Penerbit : ANDI
Harga : 22. 000
Label:
bukuku
Saat Harus Pergi, di Sekar
Cerpen ini kukirim tanggal 17 Februari 2012 dan dimuat di edisi 79 terbitan tanggal 21 Maret - 04 April 2012. Panjang naskah 7 halaman kwarto dengan 1,5 spasi. Honor 400 ribu rupiah. Pengen kirim cerpen ke majalah Sekar? Ini alamat emailnya: sekar@gramedia-majalah.com
Label:
cerpen
Kamis, 15 Maret 2012
Profil Penulis Zaman Dulu dan Sekarang
Ketika berada di toko buku dan kebetulan memegang sebuah buku tidak tertutup plastik, hal pertama yang kubaca adalah bagian kata pengantar dan profil penulis. Aku sendiri tidak mengerti alasannya, mungkin hanya kebiasaan semata.
Nah, mengenai profil penulis yang terletak di lembaran terakhir buku, ada perbedaan yang kentara antara profil penulis yang terdapat dalam buku zaman dulu dan yang terbit dalam tahun-tahun terakhir, terutama dalam buku antologi.
Profil penulis zaman dulu:
Ia telah menerbitkan empat judul buku. Diantaranya BLA...BLA...dan BLU...BLU. Beberapa cerpennya termaktub dalam beberapa antologi, seperti BLEH...BLEH...
Profil penulis sekarang:
27 bukunya sudah terbit, diantaranya BLA...BLA...dan BLU...BLU. Sekarang ia tengah berjuang untuk menerbitkan buku solo pertamanya.
Nah, mengenai profil penulis yang terletak di lembaran terakhir buku, ada perbedaan yang kentara antara profil penulis yang terdapat dalam buku zaman dulu dan yang terbit dalam tahun-tahun terakhir, terutama dalam buku antologi.
Profil penulis zaman dulu:
Ia telah menerbitkan empat judul buku. Diantaranya BLA...BLA...dan BLU...BLU. Beberapa cerpennya termaktub dalam beberapa antologi, seperti BLEH...BLEH...
Profil penulis sekarang:
27 bukunya sudah terbit, diantaranya BLA...BLA...dan BLU...BLU. Sekarang ia tengah berjuang untuk menerbitkan buku solo pertamanya.
Label:
ISENG
Selasa, 06 Maret 2012
Serupa tapi tak Sama
Perhatikan dua kalimat di bawah ini:
1.Naskah Anda kami terima dengan beberapa revisi.
2.Naskah Anda layak terbit dengan revisi.
Sekilas, kedua kalimat tersebut memiliki arti yang serupa. Artinya naskah (novel) yang kita kirim ke sebuah penerbit, diterima dengan status revisi.
Tetapi dalam proses selanjutnya, kekuatan kalimat nomor 1 jauh lebih menyenangkan, setidaknya begitu yang saya alami. Karena kalimat nomor satu berarti, Penerbit sudah bersedia menerbitkan dengan bimbingan bagian mana yang hendak direvisi Penulis. Sedangkan kalimat nomor 2, Penerbit akan membimbing bagian yang akan direvisi dan bisa jadi akan menolak naskah jika hasil revisi dari Penulis tidak sesuai dengan harapan mereka.
Aku pernah mengalami keduanya.
Ada juga Penerbit hanya menerapkan sistem TOLAK atau TERIMA. Nggak ada istilah revisi-revisian.
1.Naskah Anda kami terima dengan beberapa revisi.
2.Naskah Anda layak terbit dengan revisi.
Sekilas, kedua kalimat tersebut memiliki arti yang serupa. Artinya naskah (novel) yang kita kirim ke sebuah penerbit, diterima dengan status revisi.
Tetapi dalam proses selanjutnya, kekuatan kalimat nomor 1 jauh lebih menyenangkan, setidaknya begitu yang saya alami. Karena kalimat nomor satu berarti, Penerbit sudah bersedia menerbitkan dengan bimbingan bagian mana yang hendak direvisi Penulis. Sedangkan kalimat nomor 2, Penerbit akan membimbing bagian yang akan direvisi dan bisa jadi akan menolak naskah jika hasil revisi dari Penulis tidak sesuai dengan harapan mereka.
Aku pernah mengalami keduanya.
Ada juga Penerbit hanya menerapkan sistem TOLAK atau TERIMA. Nggak ada istilah revisi-revisian.
Label:
Curhatan
Sabtu, 03 Maret 2012
Kau Pernah Rasakan?
Kau pernah diremehkan orang lain?
Aku pernah, bahkan sering.
Seperti apa rasanya?
Tentu saja menyakitkan. Merasa tidak berguna, direndahkan, dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Tapi itu dulu. Dulu sekali.
Yup! Akibat terlalu sering diremehkan orang, atau mungkin karena pertambahan usia dan pengalaman, ucapan seseorang yang terkesan meremehkan bisa kuolah menjadi semacam motivasi dalam diri. Beberapa waktu lalu seseorang berkata kepadaku, “Cuma mimpi, kau bisa hidup dari menulis!”
Aku shock ketika itu.
Tapi tidak terlalu lama. Tidak akan kubiarkan kalimat itu menjadi racun dalam diri. Ia harus segera kuolah. Ketika aku malas menulis dan lebih memilih berselancar di dunia maya ataupun cuma kelayapan di jalan-jalan, kalimat itu berdengung di telingaku. Yup, kujadikan hal itu sebagai motivasi untuk terus menulis, menulis, dan menulis.
Dulu, ketika kuputuskan total menjadi penulis, targetku aku bisa hidup dari sana. ‘Hidup’ dalam pengertianku tentu saja berbeda dengan ‘hidup’ dalam pengertian anak pejabat, artis, pengusaha dan sebangsanya.
‘Hidup’ dalam benakku cukuplah aku punya uang ketika ingin makan, bisa beli baju, celana, bisa beli bensin, bisa jalan-jalan sesekali, bisa beli buku, bisa hang out sama teman, bisa beli pulsa, bisa beli hape baru kalo yang lama udah parah, dan punya sedikit simpanan.
Dan itu bisa kudapatkan dari menulis. Bahkan, sesekali masih bisa kasih pinjaman buat teman.
Mungkin hal ini tidak terjadi andai saja ucapan seseorang itu tidak kuubah menjadi sebuah motivasi dalam diri. Apa jadinya jika ucapan itu justru semakin membuatku terpuruk.
Tentu saja ia akan bersorak gembira.
Aku tidak mau itu.
Bagaimana denganmu?
Kata-kata bijak dari seorang teman, “Jadilah Penulis yang pintar memasuki celah, sekecil apapun celah itu”
Aku pernah, bahkan sering.
Seperti apa rasanya?
Tentu saja menyakitkan. Merasa tidak berguna, direndahkan, dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Tapi itu dulu. Dulu sekali.
Yup! Akibat terlalu sering diremehkan orang, atau mungkin karena pertambahan usia dan pengalaman, ucapan seseorang yang terkesan meremehkan bisa kuolah menjadi semacam motivasi dalam diri. Beberapa waktu lalu seseorang berkata kepadaku, “Cuma mimpi, kau bisa hidup dari menulis!”
Aku shock ketika itu.
Tapi tidak terlalu lama. Tidak akan kubiarkan kalimat itu menjadi racun dalam diri. Ia harus segera kuolah. Ketika aku malas menulis dan lebih memilih berselancar di dunia maya ataupun cuma kelayapan di jalan-jalan, kalimat itu berdengung di telingaku. Yup, kujadikan hal itu sebagai motivasi untuk terus menulis, menulis, dan menulis.
Dulu, ketika kuputuskan total menjadi penulis, targetku aku bisa hidup dari sana. ‘Hidup’ dalam pengertianku tentu saja berbeda dengan ‘hidup’ dalam pengertian anak pejabat, artis, pengusaha dan sebangsanya.
‘Hidup’ dalam benakku cukuplah aku punya uang ketika ingin makan, bisa beli baju, celana, bisa beli bensin, bisa jalan-jalan sesekali, bisa beli buku, bisa hang out sama teman, bisa beli pulsa, bisa beli hape baru kalo yang lama udah parah, dan punya sedikit simpanan.
Dan itu bisa kudapatkan dari menulis. Bahkan, sesekali masih bisa kasih pinjaman buat teman.
Mungkin hal ini tidak terjadi andai saja ucapan seseorang itu tidak kuubah menjadi sebuah motivasi dalam diri. Apa jadinya jika ucapan itu justru semakin membuatku terpuruk.
Tentu saja ia akan bersorak gembira.
Aku tidak mau itu.
Bagaimana denganmu?
Kata-kata bijak dari seorang teman, “Jadilah Penulis yang pintar memasuki celah, sekecil apapun celah itu”
Label:
Curhatan
Senin, 20 Februari 2012
Sepuluh, Diterimaaaaaaaaaaaaa!
Yup, calon buku kesepuluh akhirnya diterima penerbit. Semula kupikir yang jadi calon buku kesepuluh itu sebuah teenlit yang berada di tangan sebuah penerbit Jogya, karena naskah tersebut sudah diminta revisi sama penerbit tersebut.
Sayangnya naskah itu belum ada keputusan sampai hari ini. Justru naskah yang kukirim tanggal 7 Februari 2012 mendapat tanggapan lebih cepat dari penerbit yang berada di Jakarta (Akhirnya akan punya naskah yang diterbitkan oleh penerbit Jakarta juga :))
Naskah ini berupa novel komedi remaja. Semoga segera terbit namun tidak sampai melangkahi kakaknya (buku kesembilan) yang berada di Jogja.
Sayangnya naskah itu belum ada keputusan sampai hari ini. Justru naskah yang kukirim tanggal 7 Februari 2012 mendapat tanggapan lebih cepat dari penerbit yang berada di Jakarta (Akhirnya akan punya naskah yang diterbitkan oleh penerbit Jakarta juga :))
Naskah ini berupa novel komedi remaja. Semoga segera terbit namun tidak sampai melangkahi kakaknya (buku kesembilan) yang berada di Jogja.
Label:
penerbit
Kamis, 02 Februari 2012
Story Edisi 30, Januari 2012
Kenapa Sandi menjemput masa lalu-nya? Apa yg dilakukan Deni hingga Nando disebut bayi lumba-lumba? Kenapa pula Abe dan Erin berkali-kali sms Sandi? Kenapa pula Eno yakin Sandi lagi tak baik-baik?
Penasaran kan? Mana ilustrasinya 'sesuatu Sandi banget'. So, buruan beli maj. Story terbaru dan tuntaskan baca Serial Genk Kompor kali ini yg lucu, bikin geli tapi juga syahdu. (copas dari N***o)
Label:
cerpen
Langganan:
Entri (Atom)




